Pentingnya estatus hki melindungi hak kekayaan intelektual untuk mendorong inovasi

Pentingnya estatus hki melindungi hak kekayaan intelektual untuk mendorong inovasi – Pengembangan, khususnya di bagian tehnologi, adalah hal yang penting yang menggerakkan perubahan peradaban manusia. Tanpa pengembangan, pasti kita masih hidup seperti leluhur kita beberapa ribu tahun lalu.

Karena ada pengembangan estatus hki umat manusia dapat menangani bermacam persoalan yang tidak sanggup dituntaskan oleh nenek moyang kita. Lewat tehnologi transportasi seperti kereta api dan pesawat terbang, batasan-batas geografis tak lagi jadi rintangan untuk manusia untuk melancong secara cepat.

Perubahan tehnologi di bagian klinis sudah memungkinkannya kita memenangi perang pada bermacam penyakit yang sepanjang beberapa ribu tahun menghantui kehidupan manusia, seperti campak, cacar, malaria dan polio. Disamping itu, lewat perubahan tehnologi info, seperti telephone dan internet, untuk pertamanya kali dalam riwayat manusia, kita dapat berbicara langsung sama mereka yang tinggal beberapa ribu km dari rumah tempat kita tinggal.

Era ke-21 ini dapat kita ucapkan sebagai era pengembangan tehnologi, di mana perkembangan tehnologi di beberapa sektor, khususnya sektor klinis dan tehnologi info berkembang dengan cepat. Tehnologi seperti handphone dan transportasi online misalkan, adalah hal yang untuk sejumlah besar orang pada dasawarsa 1990-an sampai awalnya dasawarsa 2000-an, jauh di luar bayang-bayang mereka.

Tetapi, pengembangan itu tidak ada di semua negara dengan jumlah yang serupa. Beberapa negara mempunyai tingkat pengembangan yang jauh melebihi beberapa negara yang lain, dan jadi pimpinan di bagian perkembangan tehnologi.

Raksasa media Bloomberg misalkan, mengeluarkan laporan tahunan berkenaan Innovation Indeks untuk menghitung tingkat pengembangan estatus hki di satu negara. Untuk menghitung tingkat pengembangan itu, Bloomberg memakai tujuh tanda, yaitu penemuan yang dipatenkan, jumlah personel penelitian, pengajaran tinggi, perusahaan tehnologi, keproduktifan, manufacturing dengan nilai plus (nilai added manufactures), dan dana yang dipakai untuk penelitian dan peningkatan (Bloomberg, 18/01/2020).

Berdasar tanda itu, Bloomberg lalu memberi nilai dari 0-100 untuk tiap negara. Pada index yang diedarkan tahun 2020 ini, ada 95 negara yang ditelaah. Seperti yang kemungkinan telah kita prediksikan, 20 negara dengan tingkat pengembangan paling tinggi dikuasai oleh beberapa negara Eropa Barat dan Skandinavia. Jerman sendiri adalah negara yang menempati rangking pertama. (Bloomberg, 18/01/2020).

Lewat index itu, saya berminat untuk menyaksikan adakah rekanan di antara tingkat estatus hki untuk pelindungan Hak Kekayaan Cendekiawan (HAKI) di satu negara dengan tingkat pengembangan di negara itu. Karena itu, saya coba memperbandingkan di antara index yang diedarkan oleh Bloomberg dengan index pelindungan HAKI.

Pelindungan HAKI sendiri di Indonesia masih adalah masalah yang paling serius. Jika kita ke bermacam pusat belanja di Jakarta atau beberapa kota yang lain misalkan, dengan gampang kita dapat mendapati bermacam jenis produk bajakan, baik musik, film, sampai beberapa barang mode.

Beberapa barang itu dipasarkan dengan bebas dan tidak ada aparatur penegak hukum yang menindaknya. Walau sebenarnya, Indonesia sendiri telah mempunyai agunan hukum pelindungan Hak Kekayaan Cendekiawan. Dalam Pasal 1 Undang-Undang No. 28 mengenai Hak Cipta misalkan, dipastikan jika “Hak Cipta ialah hak terbatas pembuat yang muncul secara automatis berdasar konsep deklaratif sesudah satu ciptaan direalisasikan berbentuk riil tanpa kurangi limitasi sesuai ketetapan ketentuan perundang-undangan” (Hukum Online, 2015).

Berkenaan dengan topik HAKI dalam tulisan ini, saya ingin mengarah pada International Intellectual Properti Rights Indeks yang diedarkan oleh Kamar Dagang Amerika Serikat (US Chamber of Commerce) di tahun 2020. International Intellectual Properti Rights Indeks sendiri adalah index tahunan yang diedarkan oleh Kamar Dagang Amerika Serikat untuk menghitung tingkat pelindungan HAKI di satu negara.

Ada 9 tanda yang dipakai oleh US Chamber of Commerce dalam membuat index itu. Tanda itu ialah, pelindungan pada hak paten, hak cipta, merk dagang (trademarks), rahasia dagang (trade secrets), hak untuk pemilik HAKI untuk mengkomersialisasikan penemuannya, penegakan dari aparatur penegak hukum, efektivitas dari lembaga negara, dan ratifikasi dari negara itu pada Kovenan Pelindungan HAKI internasional (US Chamber of Commerce, 2020).

Comments are closed.